Oleh: Daryanti Widiastuti (Mahasiswa PJJ UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)

Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan ini
bukan sekadar kegiatan upacara, mengenakan sarung dan peci, atau mengikuti berbagai
perlombaan di lingkungan pesantren. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi pengingat tentang peran
santri dalam menjaga agama, memperjuangkan kemerdekaan, dan membangun masa depan
bangsa.
Pada tahun 2026, Hari Santri mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia
Emas”. Kementerian Agama RI menekankan bahwa santri diharapkan tidak hanya memiliki ilmu
agama, tetapi juga karakter yang kuat, kemandirian, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian
terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. (Kementerian Agama RI, 7 Oktober 2026).
Tema tersebut mengajak kita bertanya: sudahkah nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam
keseharian santri? Sebab, menjadi santri bukan hanya tentang rajin mengaji dan menghafal
pelajaran agama, melainkan juga tentang bagaimana bersikap kepada guru, menghormati orang
tua, menyayangi teman, dan menjaga persatuan.
Pancasila Bukan Sekadar Hafalan
Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Namun,
pemahaman terhadap Pancasila seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menghafal lima sila.
Nilai-nilainya perlu terlihat dalam tindakan sehari-hari, termasuk di lingkungan pesantren.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dapat diwujudkan melalui ketaatan beribadah, kejujuran,
dan tanggung jawab. Sila kedua mengajarkan kita untuk menghargai sesama, tidak merendahkan
teman, serta menjauhi perundungan. Sila ketiga mengajak santri menjaga persaudaraan meskipun
berasal dari daerah dan latar belakang yang berbeda.
Sementara itu, sila keempat dapat diterapkan melalui musyawarah ketika menghadapi masalah,
sedangkan sila kelima mengajarkan keadilan, kepedulian, dan sikap tidak pilih kasih.
Contohnya sederhana. Ketika santri membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, mereka
sedang mempraktikkan kepedulian sosial. Ketika mereka menyelesaikan perselisihan melalui
musyawarah, mereka sedang belajar menghargai pendapat. Bahkan, ketika santri mengantre
mengambil makan atau masuk kamar mandi dengan tertib, melaksanakan piket bersama, dan tidak
mengambil hak orang lain, nilai-nilai Pancasila sedang dipraktikkan.
Dengan demikian, Pancasila bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan pesantren. Nilai-nilainya
justru dapat ditemukan dalam kebiasaan kecil yang dilakukan di keseharian santri.
Akhlakul Karimah dan Adab sebagai Cerminan Karakter
Salah satu hal yang sangat penting dalam pendidikan pesantren adalah akhlakul karimah atau
akhlak yang mulia. Santri diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga
mampu menunjukkan perilaku yang baik dalam kehidupan nyata.
Menghormati guru, mendengarkan nasihat, berbicara dengan sopan, dan menjaga kepercayaan
merupakan contoh adab yang perlu dibiasakan. Begitu pula dengan berbakti kepada orang tua,
seperti membantu pekerjaan di rumah, senantiasa mendoakan mereka, dan menjaga komunikasi
dengan baik.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat kemanusiaan dan keadaban dalam Pancasila.
Seseorang yang memahami nilai kemanusiaan seharusnya mampu menghargai orang lain, baik
ketika berada di pesantren maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.
Namun, adab bukan berarti harus selalu diam atau takut menyampaikan pendapat kepada guru atau
sosok yang lebih senior. Santri juga harus belajar berbicara dengan santun ketika berbeda
pandangan, bertanya ketika belum memahami sesuatu, dan menyampaikan persoalan dengan cara
yang baik.
Akhlak yang mulia bukan hanya terlihat ketika berada di hadapan kiai atau ustaz, melainkan juga
ketika berinteraksi dengan teman, adik kelas, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Fakta yang Mengingatkan Kita tentang Besarnya Peran Santri
Pentingnya pendidikan karakter di pesantren semakin terlihat dari besarnya jumlah santri di
Indonesia. Kementerian Agama RI melaporkan bahwa hingga 4 Oktober 2026, sebanyak
4.634.406 santri telah terverifikasi dalam proses pendataan nasional. Kemenag menegaskan bahwa
angka tersebut masih dapat berubah karena proses pemutakhiran data terus berlangsung.
Data ini menunjukkan besarnya potensi pesantren dalam ikut membentuk karakter generasi
Indonesia. Jika nilai agama, akhlak mulia, dan Pancasila dibiasakan dalam kehidupan santri,
dampaknya berpeluang meluas hingga ke keluarga dan masyarakat.
Pentingnya pembinaan karakter juga terlihat dalam pemberitaan Potret Kota pada 22 Oktober
2026. Dalam peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Putri Al-Berr, Pasuruan, Kapolres
Pasuruan mengingatkan pelajar agar menjauhi perundungan, tawuran, dan berbagai perilaku yang
merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pemberitaan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter perlu diwujudkan dalam
perilaku nyata. Pengetahuan agama dan kebangsaan perlu disertai pembiasaan sikap saling
menghormati, menjaga kedamaian, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
Menghidupkan Pancasila Dimulai dari Kebiasaan
Menghidupkan kembali pemahaman Pancasila tidak harus selalu dilakukan melalui ceramah
panjang atau pelajaran di kelas. Pesantren dapat memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti
membiasakan musyawarah, menjaga kebersihan, membantu teman, bersikap adil, serta
menggunakan media sosial dengan sopan.
Guru dan pengasuh juga memiliki peran penting melalui keteladanan. Nasihat tentang kejujuran
akan lebih mudah dipahami ketika disertai contoh nyata. Ajakan untuk menghormati sesama akan
lebih bermakna ketika lingkungan pesantren benar-benar membiasakan sikap saling menghargai.
Momentum Hari Santri Nasional seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi dan
memperkuat pendidikan karakter tersebut. Santri perlu dibekali pemahaman bahwa mencintai
agama dan mencintai tanah air dapat berjalan beriringan. Keduanya dapat diwujudkan melalui ilmu
yang bermanfaat, akhlak yang baik, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan santri tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan atau
tingginya prestasi, tetapi juga dari perilaku dan manfaat yang diberikan kepada sesame dan
lingkungannya. Santri yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila adalah santri yang berusaha
menjadikan keimanan sebagai dasar perilaku, adab sebagai kebiasaan, dan persatuan sebagai
tanggung jawab bersama.
Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk membuktikan
bahwa santri mampu menjaga akhlak, mengamalkan Pancasila, dan ikut menguatkan
negeri.
CATATAN:
Sumber berita dan fakta:
- Kementerian Agama RI — Tema Hari Santri 2026, 7 Oktober 2026
Sumber tema resmi “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” - Kementerian Agama RI — Data santri terverifikasi, 4 Oktober 2026
Memuat data 4.634.406 santri yang sudah terverifikasi, dengan penjelasan bahwa pendataan
masih berjalan. - Kementerian Agama RI — Pesantren dan tanggung jawab santri, 22 Oktober 2026
(Prof. Oman Fathurahman tentang adab, disiplin, akhlak, dan tanggung jawab santri terhadap
masa depan bangsa)








































